Apabila kita perhatikan esensi
pendidikan di Jepang adalah pendidikan yang mengarah kepada kehidupan
nyata. Barangkali sedikit berbeda dengan Barat yang mengutamakan
pengembangan keilmuan dan teori. Banyak ilmu di Jepang lahir dari
praktek dan kesulitan yang dihadapi di lapangan. Kemampuan untuk menjaga
tradisi/budaya kerja, ketinggian mutu sebuah produk, dan kedisiplinan
dalam bekerja adalah prinsip yang ditanamkan tidak saja di sekolah umum
tetapi di sekolah kejuruan sekalipun.
Seperti yang saya saksikan saat menemani
para bapak kepsek berkunjung ke SMA MAWAR. Siswa-siswa dididik dengan
peralatan yang sudah berumur 40-50 tahun untuk mempelajari basic/ilmu
dasar tentang elektrik, las, dan kerja robot. Tentu saja sekolah ini
juga tidak lupa memperkenalkan siswa dengan mesin-mesin terbaru yang
dipakai di industri saat ini.
Tetapi apalah artinya sebuah mesin
modern, jika siswa tidak memahami ilmu dasarnya. Demikian kesan yang
saya tangkap dari penjelasan beberapa guru yang merupakan pakar di
bidangnya. Keahlian mereka tidak diragukan sebab untuk menjadi guru SMadi Jepang, selain sertifikat umum sebagaimana guru yang lainnya, mereka
juga diharuskan mengantongi sertifikat keahlian yang dikeluarkan oleh
pemerintah Jepang.
Karena sudah menguasai ilmu dasar dan
prinsip penggunaan alat yang sebenarnya mirip dengan mesin dan alat di
industri, maka lulusan SMK di Jepang tidak perlu ditraining secara
khusus saat mulai bekerja di industri. Mereka hanya perlu mendapatkan
pengarahan khusus tentang prinsip kerja perusahaan yang umum dilakukan
di industri manapun di Jepang.
Di papan pengumuman SMA Mawar terdaftar
sekitar 1200 lebih perusahaan yang menawarkan diri untuk menampung
lulusannya. Sekitar 74% lulusannya langsung bekerja di industri sekitar
SMK Meinan dan beberapa kota di Aichi. 24% lulusannya melanjutkan ke PT,
dan 2 % sisanya menunggu masa bekerja atau usaha pribadi.
SMA mawar membuka jurusan Permesinan,
Listrik, IT,dan Kimia Industri. Keempat jurusan ini adalah bidang-bidang
yang sangat dibutuhkan di Aichi yang merupakan provinsi dengan industri
Toyotanya dan beberapa industri yang terkait dengannya.
Kami menyaksikan sebuah kursi roda yang
sangat efektif dan mudah digunakan yang dibuat oleh seorang guru. Sayang
saya tak membawa kamera, tetapi saya sempat mencoba kursi roda ini dan
difoto oleh beberapa kepsek. Kursi roda ini telah dipasarkan dan
merupakan benda berharga bagi orang tua yang semakin banyak jumlahnya di
Jepang.
Siswa-siswa SMA Mawar juga berlomba
menciptakan mobil balap baru yang dipertandingkan antar SMAse-Jepang.
Kompetisi-kompetisi semacam ini berlangsung setiap tahun untuk menguji
keahlian siswa SMA berdasarkan jurusannya. Misalnya SMA Mawar
memenangkan perlombaan dalam bidang Kimia Industri, menganalisa
kandungan air dan beberapa uji kimiawi lainnya.
Selain harus mendapatkan sertifikat
lulusan SMA, siswa-siswa SMA Mawar juga harus mengikuti beberapa ujian
untuk mendapatkan sertifikat keahlian, misalnya sertifikat tentang
penggunaan bahan berbahaya, sertifikat tenga Quality Control, dll.
Masing-masing ujian keahlian tersebut dilaksanakan dalam level yang
berbeda-beda seperti halnya tes Bahasa Jepang misalnya, ada level 1, 2,
3, dan 4.
Kurikulum dibagi menjadi dua yaitu Mata
Pelajaran Umum dan Mapel Kejuruan. Mata Pelajaran Umum misalnya untuk
kelas 1 adalah sbb:
- Bahasa Jepang (2),
- Geografi (2),
- Matematika 1 (3),
- IPA terpadu (2)
- Olahraga (2),
- pendidikan jasmani (1),
- Kesenian (Art) (2)
- Bahasa Asing (Bhs Inggris) : Conversation (2)
- Keterampilan (2)
Menarik untuk dipikirkan pengembangannya
di Indonesia adalah SMK Meinan membuka beberapa course untuk
masing-masing jurusan, yaitu misalnya di jurusan permesinan ada 3 course
: Course untuk melanjutkan ke Peguruan Tinggi, Course untuk menekuni
Keterampilan Mesin, dan Course Mechatronics (Mechanical and electronics
Engineering). Dua course yang terakhir adalah course untuk mereka yang
setelah lulus ingin langsung bekerja.
Siswa yang memilih course melanjutkan ke
PT mendapatkan mata pelajaran untuk mengikuti ujian masuk PTN lebih
banyak dibandingkan siswa-siswa yang memilih langsung bekerja. Karena
pada kenyataannya ada 24% siswa yang meneruskan ke PT, maka SMA memang
harus menyiapkan dan memenuhi keinginan siswa-siswa tersebut.
Pemilihan course tersebut dilakukan
sejak kelas 2 awal. Di kelas 1 siswa-siswa diberi jam konsultasi khusus
tentang minatnya ke depan.
Ada sebuah lagi pemandangan yang menarik
yang mungkin belum diterapkan di SMA di Indonesia. Guru pembimbing
untuk sebuah kegiatan praktikum biasanya 2 orang. Seorang guru menjadi
guru utama yang menjelaskan teori sebelum praktek, dan seorang lagi
sebagai asisten yang akan membantu siswa saat kegiatan praktek. Setelah
kegiatan praktek, semua siswa harus membersihkan sendiri peralatan yang
dipakainya, menaruhnya di kotak-kotak alat yang sudah ditentukan. Bersih
tidaknya hasil kerja mereka merupakan persyaratan untuk dinyatakan
telah menyempurnakan praktikum. Tetapi sekalipun seorang siswa telah
membereskan pekerjaannya, dia tak dapat meninggalkan ruangan secara
perorangan. Meninggalkan ruang praktek dilakukan secara bersama-sama,
dan yang paling penting setelah siswa-siswa meninggalkan kelas, guru
bertugas untuk mengecek kembali mesin-mesin dan alat-alat yang
dipergunakan siswa apakah telah dikembalikan ke posisi semula.
Terakhir pada saat menjelang pulang
semua siswa memegang alat kebersihan dan mulai mengepel lorong-lorong
sekolah. Berkebalikan dengan di Indonesia yang petugas bersih-bersih
kelas (piket kelas) bekerja pada sebelum jam pertama dimulai, di Jepang
kegiatan bersih-bersih sekolah (bukan kelas saja) dilakukan oleh siswa
dan guru pada akhir jam sekolah, sebelum pulang.
oh ya uang SPP untuk sekolah ini juga terjangkau yaitu:
Rp 300.000,00 tiap bulan dan ada beasiswa bagi siswa yang berprestasi dan tidak mampu
oh ya uang SPP untuk sekolah ini juga terjangkau yaitu:
Rp 300.000,00 tiap bulan dan ada beasiswa bagi siswa yang berprestasi dan tidak mampu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar